Terpesona di Taman Nasional Komodo

click here to read the post in English

Mimpi yang menjadi nyata. Ya. Perjalanan kali ini, aku bersama dengan salah seorang sahabatku, Tara. Hari ini adalah hari kami tunggu. Tahun-tahun dulu, kami hanya bisa mengagumi kecantikan Taman Nasional Komodo dari media. Akhirnya hari ini datang juga. Traveling menurut kami, adalah sebuah investasi. Investasi untuk jiwa. Setelah penelusuran, research, review dan segala persiapannya. Kami memilih perjalanan 4 hari 3 malam, ikut bergabung dalam sebuah open-trip yang diatur oleh trip organizer, Indahnesia. Total pengeluaran untuk perjalanan ini sekitar Rp. 5.600.000 (5600K IDR) atau sekitar 500 USD, sudah termasuk tiket pesawat pulang-pergi Jakarta-Labuan Bajo dan akomodasi selama wisata. Berikut adalah catatan perjalanan kami, yang aku bagikan, untuk kamu, yang aku harap akan menularkan kebahagiaan dan akan semakin membuat kamu jatuh cinta dengan Indonesia. Selamat menikmati.

Kenapa Taman Nasional Komodo?
Karena menurutku, adalah wajib bagi orang Indonesia untuk mengunjungi salah satu situs kebanggaan negeri sendiri yang masuk dalam daftar pemenang New 7 Wonders : Nature dan Situs Warisan Dunia UNESCO. Ya, keren sekali kan? Berada di dalam daftar tujuh keajaiban dunia bersama dengan Hutan Amazon, Teluk Halong, Air Terjun Iguazu, Pulau Jeju,Sungai Bawah Tanah Puerto Princesa, dan Table Mountain, Taman Nasional Komodo mendapatkan suara terbanyak. Itu kenapa, aku bercita-cita mengunjungi lokasi ini.

Terletak di antara provinsi Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat, Taman Nasional Komodo terdiri atas tiga pulau besar Pulau Komodo, Pulau Rinca, dan Pulau Padar serta beberapa pulau kecil. Pulau-pulau ini aslinya adalah pulau vulkanis. Pada tahun 1980 taman nasional ini didirikan untuk melindungi komodo, kadal terbesar di dunia dan habitatnya. Wilayah darat taman nasional ini 603 km² dan wilayah total adalah 1817 km². Bukan hanya itu, di kawasan ini terdapat pula terumbu karang. Taman Nasional Komodo juga termasuk dalam Coral Triangle, yang mengandung salah satu kehidupan laut terkaya di dunia. Beberapa pulau tujuan kami adalah Pulau Kanawa, Pulau Gili Lawa Darat, Pulau Padar, Pulau Kelor dan tentunya Pulau Komodo.

Bagaimana menuju kesini?
Perjalanan dimulai dari Labuan Bajo, kota pelabuhan yang menjadi titik keberangkatan para wisatawan. Aku memilih penerbangan malam dari Jakarta menuju Denpasar, Bali, tiba tengah malam, transit selama 5 jam lalu lanjut penerbangan paling pagi dari Denpasar menuju Labuan Bajo tiba di Bandara Komodo pukul 09.00 WITA. Penerbangan menuju kesini dapat ditempuh dari berbagai area. Saat merencanakan perjalanan, pilihlah penerbangan yang sesuai dengan jadwal (itinerary) perjalanan. Jadwal perjalanan kami bermulai di pagi hari. Dari Bandara Komodo kami pergi ke pelabuhan yang berjarak sekitar 15 menit dari bandara.

IMG_2473
Bandar Udara Komodo di Labuan Bajo, Flores.
IMG_2472
Suasana ruang tunggu keberangkatan di Bandara Komodo.

Akomodasi Kapal
Karena ini adalah tamasya berlayar (sailing trip), maka saat merencanakan perjalanan kesini, penting sekali cari tahu tentang jenis kapal yang akan menjadi tempat tinggal selama 3 hari ke depan. Kami akan melakukan segala aktivitas di atas kapal ini, makan, mandi, istirahat dan lain-lainnya. Kami harus mengerti betul soal “rumah” kami. Kapal kami berjenis open-deck, terbuat dari kayu ulin, berukuran sedang, dengan kapasitas 10 turis diluar kru kapal. Ada 4 tempat tidur di bagian bawah kapal, bagian tengah yang terbuka dan ada juga tempat tidur di dek atas lengkap dengan atap dan hammock. Hanya ada 1 kamar mandi, dengan suplai air tawar. Terdapat saklar listrik di kapal ini, baik di bawah, tengah dan atas. Jujur aku cukup lega, karena tidak perlu khawatir low-batt dan satu lagi, kapal ini ada sound system-nya, loud speaker lengkap dengan jack USB/AUX. Yes! I think I’m going to enjoy my stay on this boat, I said in my heart.

Kapten kapal ini bernama Taher, seorang penduduk asli Pulau Komodo. Kru kapal total berjumlah 5 orang, Taher, Alias, Sofi (putri Pak Alias), Gais dan Baim. Untukku pribadi, adalah hal yang sangat penting berkenalan dengan mereka para ‘tuan rumah’ karena mereka yang akan menjadi pemandu dan tempat bertanya selama trip nanti. Dan, akan lebih menyenangkan untuk memanggil dengan nama lengkap bukan hanya dengan sapaan ‘Mbak’ dan ‘Mas’, berkenalan dengan teman baru, yang akan tinggal bersama untuk tiga hari. Seharusnya trip kami diikuti oleh 10 orang, namun karena kendala satu dan lainnya, hanya 3 yang akhirnya ikut, Aku, Tara dan Mbak Reni yang juga dari Jakarta. Sekitar jam 10.00 WITA, hanya 3 turis dan 5 orang kru kapal, kami bertolak menuju titik pertama, Pulau Kanawa.

Pulau Kanawa
Pulau Kanawa terletak sekitar 15 km dari Labuan Bajo. Tampak bukit batu yang ditumbuhi semak belukar, pasir yang putih dan air biru yang jernih, aku langsung jatuh hati pada pandangan pertama. Awalnya pulau ini dibina oleh seorang warga Labuan Bajo, kemudian pulau ini diserahkan pengelolaannya pada orang Italia yang mengembangkan 14 bungalow di kaki bukit batu yang menerawang ke arah pantai. Terdapat sebuah dermaga kayu cukup untuk melabuhkan beberapa kapal kecil. Biru bercampur hijau serta terumbu karang yang cantik yang terhampar seolah mengundang aku untuk mengintip ke bawah air sana. Aku tidak sabar, untuk segera snorkeling di titik pertama ini.

IMG_2474
Selamat datang di Pulau Kanawa.

Manta Point
Setelah menikmati kecantikan bawah air Kanawa, Kapten Taher mengarahkan kapal menuju tujuan berikutnya, Manta Point yang berjarak kurang-lebih 1 jam dari Kanawa. Kapal kemudian dihentikan di tengah lautan. Harus aku akui, mata para pelaut ini begitu tajam. Mereka bisa melihat pergerakan kecil di atas permukaan laut dan menunjuk sambil berteriak “Manta, lihat itu Manta!” Aku yang sangat antusias sampai loncat tapi aku tidak bisa melihat apa-apa diantara air biru ini. Pak Alias menunjuk sambil berkata “Itu disana, ayo lihat. Lihat dalam air. Tapi jangan sentuh Manta-nya. Jangan sekali-sekali kamu sentuh Manta. Kulit mereka rentan.” Aku dan Tara diam, saling lihat. “Lihat ini arus agak kencang, berenang hati-hati, ikuti Taher, jangan berenang sendirian, tetap dalam grup. Kalau ada kesulitan, lambai tangan dari air, kami siap di atas kapal.” Semua campur aduk rasanya. Antara penasaran, takjub tapi juga takut. Aku lihat Kapten Taher sudah loncat ke dalam air, berenang agak jauh lalu teriak “Ayo, disini ada Manta!” Aku dan Tara saling lihat lagi, aku yakin jantungnya juga berdegup kencang seperti aku. Ini adalah pengalaman pertama kami! Sambil berpikir, sekali seumur hidup, kapan lagi aku lihat Manta, aku loncat ke dalam air dengan snorkel dan fin. Arus memang agak kencang, air pun dingin, aku dan Tara berenang beriringan menuju Kapten Taher. Aku melihat sekitar belum tampak apapun, aku terus berenang sampai akhirnya sesuatu melintas di bawahku, sesuatu yang besar seperti terbang di kedalaman sana dan aku cuma bisa tahan napas, Tuhan,…… cantiknya.

IMG_2479
Seperti terbang bersama Pari Manta

Ikan pari manta (Manta birostris) adalah salah satu spesies ikan pari terbesar di dunia. Lebar tubuhnya dari ujung sirip dada ke ujung sirip lainnya mencapai hampir 7 meter. Ekor manta sendiri lebih pendek dibandingkan dengan ekor ikan pari kebanyakan dan tidak bersengat. Kulit manta juga diselubungi lapisan lendir yang jauh lebih tebal dibandingkan ikan pari kebanyakan. Lapisan lendir ini diduga ada hubungannya untuk melindungi kulitnya yang rentan. Populasi pari manta terancam karena tingginya kegiatan perikanan dan kondisi laut yang semakin terpolusi, namun rasio kelahiran mereka rendah. Please, please people, let us stop harmful fishing and stop polluting our ocean.

Gili Lawa Darat
Kami melanjutkan perjalanan menuju salah satu titik terbaik untuk menikmati senja di Taman Nasional Komodo, Gili Lawa Darat. Dari Manta Point, kami berlayar lagi sekitar 1 jam, untuk mencapai pulau ini. Gili Lawa sendiri terbagi menjadi dua, yaitu Gili Lawa Laut dan Gili Lawa Darat. Gili Lawa adalah pintu gerbang menuju Taman Nasional Komodo.

Kapal berlabuh di pantai dan kami melanjutkan trekking menuju puncak Gili Lawa Darat. Pulau ini cukup luas dan ada berbentuk barisan bukit yang sebagian besar tertutup oleh rumput, sehingga terlihat seperti sabana. Di bulan kemarau, rumput menguning kecoklatan kontras dengan birunya laut membuat pulau ini sangat cantik. Trekking di Gili Lawa tidak begitu terjal, namun kontur tanah berpasir, sehingga harus hati-hati melangkah. Setelah 20 menit mendaki dari pantai, kami sampai di puncak dan matahari baru saja mulai turun dari singgasananya. Warna langit yang merona kemerahan, rumput yang hijau kekuningan, laut yang biru serta pasir yang putih, sungguh, tak heran ada yang menobatkan pulau ini salah satu titik terbaik menikmati matahari terbenam. Sunset trekking is a must!

IMG_2482
Senja di Gili Lawa Darat

Selesai menikmati pesona alam, senja yang teramat cantik, kami turun kembali ke kapal sebelum langit menjadi gelap. Kami berlayar lagi menuju Pulau Padar. Malam itu, kapal kami berlabuh di pantai. Gelombang tidak begitu tinggi dan ombak nyaris tidak ada, sehingga kapal tidak begitu “goyang”. Setelah makan malam dan ngobrol santai, kami beristiharat. Ini adalah malam pertama tinggal di kapal. Aku memilih tidur di dek atas kapal. Sepanjang mata memandang, aku hampir menangis, menyaksikan Bima Sakti di atas sana. Langit bertaburan bintang, kegelapan yang indah, sinar bulan yang temaram, aku dan Tara tidak berkata apa-apa. Kami sibuk mengucap syukur memuji dan mengagungkan Pencipta. Lensa kameraku memang tidak bisa mengabadikan pesona ini, namun secara detail, aku rekam semua melalui lensa mata dan kusimpan baik-baik di memori hati. Memori bermelodi ‘Bila kulihat bintang gemerlapan dan bunyi guruh riuh kudengar, Ya Tuhanku, tak putus aku heran melihat ciptaanMu yang besar.

Pulau Padar
Pulau Padar adalah pulau ketiga terbesar di kawasan Taman Nasional Komodo, setelah Pulau Komodo dan Pulau Rinca. Pulau Padar tidak dihuni oleh komodo. Subuh, kami mulai trekking menyusuri Pulau Padar menuju puncak bukit. Kami berencana menikmati fajar dari atas Pulau Padar. Tidak berbeda jauh dengan Gili Lawa Darat, hamparan rumput juga menutupi Pulau Padar. Tanahnya juga berpasir, namun jalur trekking lebih jauh dan ada beberapa daerah yang terjal. Setelah perjuangan hampir 1 jam, kami sampai di puncak dan terhipnotis keindahan panorama dari atas. Biru laut dan jajaran pulau di sekitarnya adalah suguhan pagi yang fenomenal. Dari atas pulau ini dapat terlihat 3 pantai dengan 3 warna pasir yang berbeda, pink, hitam dan putih. Selain itu, aku melihat cahaya matahari pagi dan bulan bersamaan. Sunrise yang tak akan terlupakan, karena berada di tengah cahaya matahari dan bulan.

Pak Alias bercerita tentang Pulau Padar. Beliau adalah salah satu pionir penemu Pulau Padar dan jalur trekking yang bisa dilalui oleh turis. Dia menemukannya bertahun-tahun lalu dalam ekspedisi bersama majalah Tempo. Sambil bercerita terkadang tertawa melihat raut mukaku dan Tara ketika kami melihat kecantikan ini, beliau berkata “Mbak Indah, Mbak Tara, Tuhan sedang tersenyum ketika menciptakan Pulau Padar. Subhanallah.”

IMG_2488
Pemandangan dari puncak Pulau Padar terlihat 3 pantai dengan warna pasir yang berbeda.

Pantai Namong
Kami tiba di Pantai Namong yang berjarak 1 jam lebih dari Pulau Padar. Pasir berwarna pink yang terdapat di Taman Nasional Komodo berasal dari pecahan terumbu karang yang berwarna merah. Pantai Namong tidak begitu ramai. Kali itu, hanya ada kapal kami yang berlabuh di pantai itu. Tidak banyak yang tahu tentang pantai ini. Kata Pak Alias, pantai pink yang lokasi ramai pengunjung, sudah tidak pink lagi warna pasirnya, karena terumbunya sudah mulai terkikis habis karena kapal. Maka beliau mengajak kami ke Pantai Namong, yang pasirnya juga berwarna pink. Hari itu cuaca agak muram. Kami sempat mengalami badai dan setelah 1 jam, badai berhenti dan tersisa hujan rintik-rintik. Kami berlabuh di Pantai Namong siang hari. Rencananya kami akan menyusuri pantai dan snorkeling di sekitar situ.

Menjelang makan siang, aku berkelakar bertanya ke Pak Alias, “Pak, kalau di pantai ini, ada Komodo nggak?” “Ya, bisa aja ada, kan komodo ada di beberapa pulau, bukan hanya Pulau Komodo.” jawab Pak Alias. “Wow, jadi bisa aja dong pas snorkeling terus ketemu Komodo? Serem juga ya Pak” kataku. Aku dan Tara bertukar pandang, sekilas ada raut ketakutan. “Ya, bisa aja. Komodo bisa berenang lho, bahkan sampai antar pulau. Tapi itu jarang sekali. Sangat jarang. Terakhir aku lihat komodo berenang itu hampir sepuluh tahun lalu. Itu pun karena ada proyek waktu itu buat film dokumenter tentang komodo, aku sama beberapa peneliti memancing Komodo dengan daging umpan ke arah pantai supaya Komodo mau keluar dan berenang. Tapi tidak berhasil.” cerita Pak Alias. Kemudian dia bercerita lagi tentang pengalamannya dengan komodo sampai kami mendengar suara teriakan. Itu suara Kapten Taher, dia sudah turun ke pantai lebih dulu. Pak Alias kemudian bergegas lari keluar kapal dan melihat sumber suara. Semua terjadi begitu cepat, demi Tuhan, semua sangat cepat. Aku lalu mendengar suara Pak Alias berteriak “Komodo! Ada komodo! Indah! Tara! Ada komodo! Mari cepat, cepaaatt! Ambil kamera! Ambil kamera!” Sepersekian detik aku dan Tara saling lihat, kami lompat lihat keluar kapal, Kapten Taher sedang di pantai, berteriak “Komodo…..ada Komodo!!” Aku langsung berlari ambil handphone, aku beri ke Pak Alias, dia langsung loncat dari kapal dan berlari menuju Kapten Taher. “Ayo kemari!!!! Cepat lihat ini! Ini jarang sekali Indah! Tara! Ayo!!!!” teriak Pak Alias. Kru kapal langsung turun dan mengikuti beliau. Aku masih diam di atas kapal, aku lihat ke pantai dan aku lihat kadal besar itu sedang berenang di tepi pantai menuju kapal. Aku tercengang. Diam. Tak bernapas. Tak bersuara. Tara juga begitu. Beberapa menit aku diam, diantara terpukau, tercengang, terkagum, takut dan semuanya, aku putuskan aku harus lihat ini langsung. Aku loncat dari kapal. Tak lama, Tara menyusul loncat dari kapal. Kami berlari menghampiri kru kapal untuk melihat komodo yang berenang. Mereka berteriak, kegirangan, “Ini sangat jarang, Ya Tuhan, kita sangat beruntung, kita sangat beruntung!!!!” Aku pun berteriak. Kagum. Takut. Takjub. Dia begitu cantik, begitu gagah, begitu kuat, begitu buas. Tuhan Maha Besar.

IMG_2492

Kampung Komodo
Setelah dari Pulau Namong, kami berlayar lagi menuju sebuah desa asli yang terletak di tepi Pulau Komodo. Merekalah masyarakat yang tinggal di perkampungan nelayan Pulau Komodo yang lebih dikenal dengan nama Kampung Komodo. Sebelumnya kami mampir dulu ke Pulau Kalong, pulau yang dihuni oleh kelelawar.

Pak Alias mengantarku berkeliling kampung. Kami melewati jembatan panjang di tepi kampung dan melewati sela-sela rumah panggung menyaksikan aktifitas masyarakat. Beberapa masyarakat menyapaku dengan senyum ramah dan hangat khas pedesaan. Pak Alias adalah penduduk asli di Kampung Komodo. Hampir seluruh masyarakat disini saling mengenal. Suasana kekeluargaan sangat kental terasa. Ada rasa haru dan miris menyelinap saat menyaksikan kehidupan di perkampungan ini. Tak ada listrik di kampung ini, yang ada hanya generator yang digunakan mulai dari sore hingga jam 10 malam. Hanya ada satu puskemas pembantu dan bidan. Tidak ada dokter disini. Kunjungan dokter hanya dari Labuan Bajo. Ada dua gedung sekolah disini, untuk SD dan SMP bergabung dengan SMA. Mata pencaharian utama masyarakatnya adalah nelayan. Komodo hidup bebas berkeliaran di sekitar kampung ini, bahkan tak jarang memakan hewan ternak kambing mereka.

Ketika ditawari ingin bermalam di kapal atau di rumah Pak Alias, aku dan Tara sepakat memilih untuk istirahat di Kampung Komodo malam ini. Pak Alias sering mengajak tamu menginap di rumahnya yang diberi nama Homestay Siwa, sesuai nama anaknya. Banyak tamu luar negeri yang tinggal di rumah Pak Alias. Ayah enam orang anak ini sudah menjadi tour leader selama 4 tahun terakhir. Putri Pak Alias, Sofi, tinggal bersama Pak Alias di Kampung. Sofi punya anak perempuan berusia 8 bulan. Karena keadaan, Sofi ikut bekerja bersama Pak Alias, menjadi juru masak di kapal. Selama tidak ada trip, mereka berdiam di Labuan Bajo. Mereka hanya memiliki kesempatan pulang ke Kampung Komodo bila ada tamu yang diantar trip. Ini adalah hari ke-delapan Sofi sudah tidak pulang bertemu putrinya, Atika.

Keluarga Pak Alias dan Ibu Hani sangat ramah. Mereka bercerita pengalaman-pengalaman tamu yang tinggal di rumah mereka. Mulai dari warga Polandia yang tinggal selama hampir dua bulan disana sampai wisatawan luar negeri yang membuat film dokumenter tentang Komodo bersama dengan putra mereka, Siwa. Pak Alias sudah menyiapkan kamar utama untuk kami, tilam berkelambu, lengkap dengan kipas angin. Rumahnya terbuat dari kayu, berbentuk rumah panggung. Aku terharu dengan keramahan mereka. Saat malam hari, aku mengintip keluar kamar, Pak Alias, Ibu Hani dan putra putri mereka yang masih balita, Palo dan Anna, tidur di beranda rumah dengan lampu minyak. Aku sungguh terenyuh melihat kehidupan mereka yang sederhana, dan keramahan mereka menjamu tamu yang datang menginap. Pasti, aku akan kembali lagi kesini suatu hari nanti.

Pagi hari, aku bergegas ke dermaga Kampung Komodo bersama Tara. Seperti semacam ritual, aku selalu menyempatkan melihat momen kesukaanku saat trip, sunrise, saat matahari muncul dan menyapa bumi dengan hangat dan sinarnya. Komposisi warna mahakarya yang selalu mengundang kagum dan rasa syukur pada Yang Kuasa, bahwa semuanya akan baik-baik saja, karena matahari akan selalu terbit dan bersinar lagi, mengawali hari yang baru, cerita yang baru.

IMG_2511
Menyambut matahari pagi di dermaga Kampung Komodo.

Pulau Komodo
Meninggalkan Kampung Komodo, kami melanjutkan perjalanan menuju Loh Liang di Pulau Komodo. Di sini, ada pilihan berbagai trek yang bisa dipilih, pendek ataupun panjang. Selama perjalanan akan ditemani oleh Ranger. Lagi-lagi kami beruntung, karena kami memilih trek yang pendek dan kami melihat dua komodo yang sedang berkejaran di puncak bukit. Pak Alias menemani kami selama perjalanan. Para Ranger akrab dengan Pak Alias. Selama trekking Pak Alias bercerita tentang pengalaman kami kemarin bertemu komodo yang sedang berenang di Pantai Namong. Ranger sangat kaget mendengarnya, bahkan sampai berkata “Aku saja selama jadi Ranger, tidak pernah melihat komodo yang sedang berenang.” Aku merasa sangat amat beruntung. Pengalaman yang ajaib.

Catatan tentang komodo pertama kali ada di tahun 1910. Warga lokal menyebut komodo dengan nama asli, Ora, yang artinya “berteriak”. Kadal terbesar ini tergolong hewan yang rentan (vulnerable) oleh IUCN International Union for Conservation of Nature and Natural Resources. Komodo dilindungi oleh hukum perlindungan satwa di Indonesia dan dunia.

Turtle Point
Selesai dari Pulau Komodo, kami melanjutkan perjalanan ke tempat favorit Kapten Taher, Turtle Point, sekitar 30 menit berlayar dari Pulau Komodo. Disini banyak sekali penyu dan saat aku snorkeling, aku melihat ada dugong yang melintas disini.

IMG_2515

Karang Sembilan
Kami kemudian melanjutkan perjalanan ke sebuah pulau yang unik, diberi nama Pulau Sembilan atau Karang Sembilan. Pulau ini terbentuk dari gugusan karang-karang mati yang mengering lalu hanyut terbawa ombak. Gugusan karang ini membentuk angka 9 dan ditengahnya terdapat ada kolam kecil, terbentuk dari air laut yang terperangkap dan di dalam kolam itu dipenuhi tumbuhan hijau merata di dasar kolam dan kumpulan ubur-ubur tanpa sengat. Dalamnya kolam ini hanya 80 sentimenter. Dari atas kolam terlihat kumpulan ubur-ubur bertentakel biru. Kapten Taher mengajak kami snorkeling di kolam ini dengan beberapa syarat: kami tidak boleh berhenti berenang, tidak boleh mengepakkan fin terlalu kuat, tidak boleh menginjak tumbuhan dan ubur-ubur.

Pulau Kelor
Tujuan berikutnya adalah pulau terakhir dalam daftar tujuan kami, Pulau Kelor. Tara dan aku menjuluki pulau ini pulau dengan pemandangan sejuta dolar — one million dollar view. Pasir yang putih, terumbu karang dan kehidupan bawah laut yang cantik, pemandangan sekitar pulau yang menakjubkan dan bukit yang menjulang di tengah pulau, menjadikan Pulau Kelor salah satu destinasi favorit.

Setelah snorkeling, kami mendaki ke atas bukit yang memiliki kemiringan lebih dari 45 derajat. Dibandingkan Gili Lawa Darat dan Pulau Padar, pendakian Kelor memang paling sulit, namun pemandangannya memang setimpal. Sesampainya di puncak, kami menyaksikan matahari terbenam. It is indeed a million dollar view.

IMG_2516
Senja di atas Pulau Kelor, Taman Nasional Komodo.

Kembali ke Labuan Bajo.
Kami tiba kembali ke pelabuhan Bajo pukul 19.00 WITA. Lampu-lampu yang terlihat di kota pelabuhan utama ini menjadi pemandangan yang indah. Rasanya tidak lengkap bila tidak mencicipi makanan lokal Labuan Bajo. Terdapat jejeran warung makanan laut segar sepanjang pelabuhan. Kuliner yang wajib dicoba.

Aku dan Tara lalu bermalam di Labuan Bajo, karena tidak ada penerbangan malam dari Bandara Komodo. Kami menginap di Selini On The Hill Villas. Penginapan ini unik dan cantik. Terbuat dari kayu, dibuat seperti rumah pohon, dengan Air Conditioner, kamar mandi tanpa atap, nuansa eco-friendly, natural dan tradisional. Panorama pagi hari dari beranda kamar yang sangat cantik dan menikmati sarapan pagi dengan pemandangan indah Labuan Bajo di pagi hari, sangat amat worthed dengan harga Rp.600.000 per malam.

IMG_2540[1]

Gua Batu Cermin
Hari terakhir di Labuan Bajo, aku dan Tara terjadwal untuk terbang sore nanti pukul 15.00 WITA. Siang hari, kami sempatkan untuk mengunjungi Gua Batu Cermin yang berjarak 15 menit dari tempat kami menginap. Gua Batu Cermin ditemukan oleh Verhoven, seorang pastor Belanda yang juga seorang arkeolog, pada 1951. Verhoven menyimpulkan bahwa Pulau Flores dulunya berada di dasar laut berdasarkan temuan koral dan fosil satwa laut yang menempel di dinding goa. Sinar matahari masuk ke gua dan memantulkan cahayanya di dinding batu. Pantulan meneruskan cahaya ke dalam gua sehingga terlihat seperti cermin. Inilah kenapa gua ini disebut batu cermin.

Selesai sudah perjalanan kami 4 hari 3 malam di taman nasional ini. Melihat warna-warna yang terlukis di atas batas cakrawala, menari bersama pari manta di kedalaman, berada begitu dekat dengan cantiknya kehidupan bawah air, tidur di bawah bintang, mengejar matahari pagi, menjadi bagian dari momen langka melihat kanibal raksasa berenang di tepi pantai pasir merah muda, merasakan hangatnya kesederhanaan lokal di perkampungan, mengawali hari dengan panorama cantik kota pelabuhan, bersama sahabat setelah lebih satu dekade bersama, sungguh, ini memang mimpi yang menjadi nyata. Memori yang membuat aku jatuh cinta lagi, lagi dan lagi.

IMG_2539

Terima kasih untuk Tara Candida Mariska, teman sejawat seperkuliahan sedari sepuluh tahun lebih dulu, teman sekamar dan (mantan) teman sekantor. A soul sister whose brain wickedly synced with mine. Terima kasih untuk kesabaran, impulsivitas dan frekuensi nyeleneh kami yang tersimpulkan dalam gelitik tawa. Your giggles and the sound of your voice mumbling Under The Sea through your snorkel imprinted in my head and I can hear it every time I see underwater scenery, Ay! Terima kasih Indahnesia.net telah mengatur perjalanan ini dari pulau ke pulau, atas bukit sampai bawah laut. Terima kasih Pak Alias untuk panduan lokalnya yang otentik, orisinil dan spesial. I consider you as my father every time I visit Kampung Komodo. Stay warm as you are, stay healthy, Bapak! Terima kasih Kapten Taher untuk dokumentasi bawah air yang luar biasa dan untuk antusiasme-nya terhadap segala yang bernyawa di laut, darat dan udara. Keep the fire burning, King of Turtle!

Terima kasih, Mahabaik. Untuk semuanya. Untuk semua pelajaran, harta dan kenangan yang tidak ternilai. Terima kasih untuk kesempatan boleh menyaksikan dan mengagumi Mahakarya dan rangkaian keajaiban yang tidak habis diceritakan dengan kata-kata. Tuhan Maha Besar.

Sampai nanti, Komodo.
Dan kamu, ya kamu. Kamu harus kesini!

IMG_2538

***

Rincian biaya yang dikeluarkan sekitar 5600K++ IDR terdiri dari : tiket pesawat pulang-pergi Jakarta-Labuan Bajo sebesar 3300K++, sailing trip 3 hari 2 malam sebesar 1650K (sudah termasuk makan dan penjemputan serta pengantaran ke bandara), menginap semalam di Selini by The Hill sebesar 600K++, dan tur ke Gua Batu Cermin sebesar 100K++ (termasuk transportasi, dan tur ini bersifat opsional).

Seluruh revervasi penerbangan dan penginapan dilakukan via Traveloka. Perjalanan sailing trip diatur oleh tour-organizer Indahnesia, yang punya banyak pilihan trip, kamu bisa lihat disini. Paket perjalanan sudah termasuk dokumentasi oleh Indahnesia menggunakan GoPro Hero4, kamu bisa cek foto di instagram mereka Indahnesia.id atau klik disini. Kamu bisa kontak Indahnesia, dengan Ruby di nomor ini +6283820117990 atau langsung kontak Pak Alias di nomor ini +6282145252757.  Foto-foto karya pribadi diambil dengan lensa kamera ponsel iPhone 5.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s