It’s Truly An Honor, Sir

Aku ingat betul hari-hari itu, sampai hari ini.

***

Pertengahan 2010.

Aku, si Koasisten tingkat akhir dalam stase anestesi di sebuah RS ibukota bagian utara. Seragam wajib biru muda dari ujung rambut sampai ujung kaki lengkap topi, masker, dan sandal karet lubang-lubang. Hari itu, dari ruang kantor anestesi, sayup-sayup ada suara gitar dan laki-laki nyanyi lagu pop melankolis masa kini yang di-cover ulang pria bertato penuh. It was one of my favorite of Kahitna’s, Takkan Terganti. Pantas ada suara gitar, hari itu di papan tulis daftar operasi tidak begitu penuh seperti kemarin-kemarin. Si Dokter Anestesi lagi aktivasi otak kanannya. And he is really good with those strings. I could tell, he mastered accoustic guitar. And that’s it. I fall for him. That easy. Karena otak kanannya secemerlang otak kirinya. Yes, I do fall for brains. Dia pribadi yang sangat pintar. Dia dokter yang sangat pintar. Bukan cuman soal teori kedokteran, tapi filosofi kedokteran itu sendiri. Words could not describe how amazing this person is.

Dari satu operasi ke operasi yang lain, dia pasti sempatkan waktu untuk tanya hal-hal yang memprovokasi koasistennya untuk berpikir. Dan ini, adalah hal-hal dasar.

“Semua pembuluh darah keluar dari jantung disebut arteri?”
“Ya Dok.” (para koasisten menjawab berjamaah)
“Semua pembuluh darah masuk ke jantung disebut vena?”
“Ya Dok” (para koasisten masih menjawab berjamaah)
“Nah kalau begitu semua pembuluh darah yang masuk ke jantung membawa darah kotor”
“Ya” “Tidak” (para koasisten mulai tidak kompak, tipikal koasisten, suara makin sayup lalu saling lihat)

“Dehidrasi. Demam bisa menyebabkan dehidrasi?”
“Ya bisa, Dok.”
“Dehidrasi bisa menyebabkan demam?”
“Ya bisa, Dok.”
“Patofisiologinya gimana?” (sambil tindakan anestesi spinal ke seorang pasien)
“….. hmm, dehidrasi menyebabkan cedera seluler sehingga mengeluarkan sitokin yang bersifat pirogen endogen, merangsang termoregulator, jadi demam, Dok..” (suara sangat pelan, tipikal koasisten, takut salah)
“……..” (hening beberapa detik, si Koasisten makin ketakutan)
Nice try, but it’s more than that. Masih kurang yaaa..”
I swear to God I saw him raising his eyebrows.
“Cari jawabannya, email ke saya ya.”

“Mana lebih bahaya, asidosis atau alkalosis?”
Terdengar murmur jawaban para koasisten, tipikal.
“………….”

Dan masih banyak pertanyaan lainnya yang dia lempar sewaktu-waktu sambil tindakan anestesi, atau sambil jalan di lorong antar kamar operasi, atau sambil bercanda sama ahli bedah, atau sambil makan. Everytime we could not answer him, he never said we were not good enough, he said we have to find more and more. He encourages people and he absolutely down-to-earth. It is a gift. Dan tidak semua orang, mungkin lebih spesifik, tidak semua dokter, punya gift itu.

“Kamu mau jadi spesialis apa? Dan kenapa?
“Belum tau dok, antara jantung atau anak”
“Kenapa?”
“Gak tau dok, mungkin karena saya suka ilmunya.”
Any particular favorite subject?
“Fisiologi dan patofisiologi”
“Pernah berpikir untuk jadi intensivist?”
“…….” (He got me silenced. Me? An intensivist?)
“Oke, karena kamu suka patofisiologi dan jantung, saya ada pertanyaan buat kamu.”
“Ya Dok?”
“Kamu kan nanti akan jadi seorang dokter. Dan kamu paham apa itu life-saving dan tindakannya. Saya kasih satu ilustrasi kasus, pasien datang dalam keadaan syok, tekanan darah sangat rendah, kamu instruksikan apa?”
“Pasang i.v line
“Lalu, kamu rencanakan loading cairan?”
“Ya Dok…” (suara mulai gemetar, lagi-lagi tipikal koasisten)
“Pada kasus syok hipovolemik, respon kamu pasti beri cairan?”
“Ya Dok” (suara yakin)
“Pada kasus edema paru, respon pertama kamu pasti keluarkan cairan?”
“Ya Dok” (suara lebih yakin)
“Nah, ternyata kamu evaluasi pasien tadi lebih rinci lagi, ada edema paru bermakna, pasien makin sesak. Masih kamu loading?”
“………..” (He got me silenced again)
“Kalau kamu loading, dia sesak. Kalau kamu stop loading, perfusi ke jaringan perifer menurun, termasuk ke ginjal dan jantung, jadi bisa cedera. Masih kamu loading apa enggak?”
“………..” (He got me silenced again and again and again)
“Cari ya jawabannya. Kalau ketemu, kasih tau saya.” (sambil senyum)

What will I do? How will I save him? Pakai algoritma yang mana? Pakai guideline yang mana? Airway-Breathing-Circulation? Circulation-Airway-Breathing? Dan pertanyaan pun itu terus terngiang-ngiang.

***

Pertengahan 2011.
(Hampir satu tahun kemudian)

Menjelang Sumpah Dokter, si Koasisten lagi jalan-jalan di pusat perbelanjaan ibukota bagian selatan, dan dari sejuta pengunjung mall lima lantai ini, guess who she met? Ya. Si Dokter Anestesi. Lengkap sama keluarga dan anak-anaknya. Si Koasisten spontan langsung salam, salim, sambil tanya kabar.

“Mana jawabannya? Kok saya belum terima di email saya?”
“Iya belum ketemu dok…” (masih tipikal koasisten, volume berbanding lurus dengan keyakinan jawaban. Makin kecil, makin sayup)
“Tapi masih inget kan kurva disosiasi Hb?”
Dan si Koasisten cuman bisa cengar-cengir. Mindlost.

***

Februari 2013.
(Hampir dua tahun kemudian)

Si Koasisten (yang sekarang sudah resmi jadi dokter umum) –kita sebut sekarang si Dokter Umum– sudah kembali ke ibukota setelah masa bakti internship satu tahun di Lampung. Baru saja dapat sertifikat kursus ACLS bulan lalu. Waktu kursus ACLS, si Dokter Umum sempat tanya ke Spesialis Jantung soal ilustrasi kasus yang dulu soal syok dan edema paru. Spesialis Jantung jawab kalau itu ada di algoritma tatalaksana Edema Paru Akut yang disertai kondisi tidak stabil (salah satunya hipotensi/syok) diberikan diuretik bersama dengan obat vasopresor Dopamine dan Dobutamine.

Ah, I got it. I got the answer! Pikir si Dokter Umum dia sudah ketemu jawabannya. Dia berniat tulis email ke Dokter Anestesi yang terakhir kali dia lihat di pusat perbelanjaan dua tahun lalu tentang jawaban yang dia dapat soal ilustrasi kasus dulu. Tapi, pada saat itu, mencari kerja adalah sebuah kebutuhan yang menjadi prioritas, jadi fokus ke melamar kerja, rencana email Dokter Anestesi ditunda.

Maret 2013.

Dokter Umum diterima kerja di sebuah RS swasta di ibukota kirim lamaran via email, dapat surat panggilan interview setengah jam kemudian, untuk keesokan harinya. Itu panggilan wawancara pertama dia, dan dia cuma punya waktu kurang dari 6 jam untuk mempersiapkan diri. Wawancara 3 lapis pertanyaan kasus klinis dan keputusan klinis dokter umum dengan jajaran direksi, Ketua Komite Medis, koordinator IGD, semuanya konsulen. Rasanya kayak dua kali lipat OSCE. Dua minggu kemudian, dapat kabar “selamat bergabung” dari RS itu, 3 dari 9 dokter diterima kerja disana. It’s probably her being lucky, but it is destined to be.

Hari pertama kerja, atasannya briefing mereka kalau kemarin proses wawancara kurang lengkap karena ada satu dokter yang tidak sempat menguji. Dan dokter ini yang mengusulkan prasyarat kualifikasi dokter umum tetap yang akan diterima RS ini, pendiri ICU dan komandan ICU sampai saat ini. GUESS WHO?? Ya! Betul sekali, si Dokter Anestesi konsulen si Dokter Umum waktu koasisten dulu. It’s probably her luck, but it is destined to be. This is why.

April 2013.

Karena satu dan lain hal, si Dokter Umum memutuskan resign dari RS ini. Cuma dua bulan kerja langsung resign? Songong banget ya? Tapi alasannya prinsipil. Tidak bisa dibantah. Lalu, dengan sangat berat hati melapor ke Dokter Anestesi tentang rencana pengunduran diri. Hari itu, si Dokter Anestesi rencana bimbing staf tenaga medis dokter, perawat dan bidan soal krisis hipertensi. Dedikasinya luar biasa. Naik motor dari ujung ibukota sana, hanya untuk mengajar, pro bono. Dan bukan hanya satu RS. Padahal saat ini dia praktek di RS swasta top di ibukota, tapi dia masih menyempatkan waktunya, untuk membagi yang dia punya ke mereka yang notabene tidak satu level dengan dia. Kepintaran seseorang dinilai dari bagaimana dia bisa membuat mereka yang tidak mengerti menjadi mengerti. Bagaimana dia bisa berbicara tentang sesuatu yang sangat advanced dengan bahasa yang sangat awam. He effortlessly explained about hypertensive crises with simple language, even amateur nurses and midwives could understand. Amazing, isn’t it?

Banyak sekali yang dia bagi untuk kami sore itu, yang aku tulis dalam post lain di blog ini. I’ll post it soon. Yang paling melekat di memori, “Jangan biarkan keterbatasan fasilitas menyebabkan keterbatasan berpikir. Resources may be limited, but not the mind. It is limitless. Jangan ikuti pola pemikiran dokter jaman dulu. Harus berubah dari yang tadinya ‘Ah obat ini kan gak ada, gak usah dipikirin. Ah teknologi ini kan kan gak ada di Indonesia, nanti ajalah dibahasnya, buang waktu buang energi. Ah kan uangnya gak ada, nanti aja deh mikirnya’ menjadi ‘Bagaimana ya kalau ada obat ini. Bagaimana kalau ada teknologi ini? Bagaimana ya kalau ada uang untuk bikin ini itu? Apakah saya akan mampu? Ya, saya mau mampu.” Di dalam paparan Krisis Hipertensi yang dia bawakan, dia membahas soal obat hipertensi di masa depan, blood pressure vaccine. Yes, vaccine! Certain human gene that regulates blood pressure has been found and on its way to be altered to prevent hypertension in upcoming years. Bahkan dia menyertakan bagian non-drug antihypertensive substance yaitu ekstrak Hibiscus. His mind is limitless.

Lalu si Dokter Umum berdiskusi dengan Dokter Anestesi.

“Jadi bagaimana dengan kasus dua tahun lalu, Dokter Umum?”
“Hmm.. memang saya belum pernah menemui kasus seperti itu Dok, tapi dari literatur yang saya baca, guidelines ACLS 2010, pada kasus Edema Paru Akut dengan kondisi tidak stabil, diberikan diuretik dengan vasopresor dopamin atau dobutamin”
(Kemudian Dokter Anestesi tersenyum, sambil melihat si Dokter Umum)
“Itu ACLS, Advanced Cardiac Life Support. Advanced berarti bukan basic. Dokter umum ranah kerjanya bukan di advanced area, tapi di basic area. Jadi kembali ke insting seorang dokter umum, life-saving, didukung keilmuan dasar dengan tubuh manusia. Jadi, supaya kamu nggak penasaran, ini saya kasih tau hasil pencarian saya. Kasus ini memang sulit, maju salah mundur salah diam lebih salah. Kalau pasien terus dalam keadaan syok, perfusi kapiler perifer akan menurun sebagai autoregulasi penyelamatan organ vital yang paling utama, otak. Kapiler paling halus ada di glomerolus. Resiko syok berkepanjangan dapat mencederai ginjal. Di sisi lain edema paru akan menyebabkan difusi oksigen terganggu sehingga hipoksia. Sehingga memang terkesan harus mengorbankan salah satu. Yang mana? Di sini basic science jangan pernah dilupakan. Fungsi regenerasi tubuh manusia. Mana yang lebih rentan cedera Dok? Ginjal atau paru? Dan mana yang kemampuan regenerasi pulih sempurna lebih tinggi? Jadi, kalau ketemu pasien seperti kasus ini, teruskan loading, walaupun dia edema paru, tapi kita selamatkan ginjalnya. Paru cedera bisa recovery. Ginjal cedera, hemodialisis seumur hidup. Lalu pasang pulse oxymetri, ukur saturasi oksigen, sambil persiapkan intubasi cegah hipoksia. Life-saving. Risk analysis. Cost and benefit. Bukan cuma hafalan algoritma, tapi evidence-based medicine. Bagaimana Dokter Umum?”
“………………….” (Dokter Umum bisu, sebisu-bisunya, demi apapun.)
“Biar kamu gak penasaran terus….”
“Dua setengah tahun Dok… saya gak pernah lupa kasus ini, saya gak akan lupa kasus ini. Sama semua yang Dokter bagi ke kami.”
“Hahahaha, kesannya gue kayak filsuf ya, campur aduk kedokteran sama filosofi..”
“Tapi gak semua dokter seperti Dokter”
“Ah masa sih, banyak juga kok yang lain..”
“Ya selama dua setengah tahun saya baru ketemu satu Dok ”
“Nah, berarti harus banyak kenal dan diskusi sama sejawat yang lain..”
Dokter Umum menghela napas panjang. She just had multiple brain-gasm(s).
Thank you, Doc
You are very welcome. I enjoy teaching. Berikutnya kita diskusi apa ya? Hmm…”
Why do you this Sir? Why do you enjoy teaching?
For a greater good. For theirs, for you and for my own good. Karena cara paling baik untuk menjaga ilmu adalah dengan membaginya.”

***

Aku ingat betul hari-hari itu, sampai hari ini.

———————————————————————————————————————————————————————

*penggunaan bahasa dalam dialog telah mengalami penyesuaian

– i –

A tribute dedicated to dr.H.P SpAn(KIC), for he is an inspiration. A living one.
I consider the chance of knowing him in person and discussing things with him is a blessing.
It is truly, an honor, Sir.

🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s