Dapat Apa Sih Selama Internsip?

Untuk mereka yang (masih) bertanya tentang Internsip.

Ini tulisan opini, bukan tulisan menghakimi.

Ini tulisan manusiawi, bukan tulisan menggurui.

Ini murni.

Aku, seorang dokter lulusan universitas swasta dua tahun lalu yang sudah selesai menjalani program Dokter Internsip Indonesia selama satu tahun.

Aku juga seperti mereka, sempat marah-marah dan menolak dikirim ke pulau seberang selama satu tahun tanpa bekal apa-apa. Hanya embel-embel “bantuan hidup” yang berkontribusi kecil menunjang semua kebutuhan. Ujung-ujungnya angkat telfon dan minta suntikan energi materiil dari orangtua.

Aku juga seperti mereka, sempat mencari celah sempit untuk kesempatan lain. Baik itu kesempatan untuk kabur ataupun kesempatan untuk memberontak sistem. Ya, ini memang penjajahan bertitelkan kebijakan. Entah bijak dalam hal apa. Aku rasa mereka yang tidak memperlakukan manusia secara manusiawi tidak layak disebut bijak.

Aku juga seperti mereka, yang punya segudang cita-cita dengan mimpi setinggi langit, yang dengan penuh sadar menunda semua rencana ini dan menjalani waktu penjajahan ini. Dengan hitungan mundur hari demi hari. Dengan banyak keluh dan caci, sambil bertanya “Apa gunanya ini nanti?

Lucu, jawabannya ternyata aku dapat setelah masa satu tahun selesai.

Ada yang bilang, program ini untuk mengasah ketrampilan klinis karena waktu hands-on patient saat masa koasisten kemarin kurang lama. Ya, mungkin benar. Mungkin. Hanya saja aku rasa, ketrampilan klinis seorang dokter tidak ditentukan dari berapa lama dia praktek dan mengenal pasiennya. Ada yang jam terbangnya tinggi, tapi jarang update ilmu. Ada juga yang jam prakteknya sedikit,paham betul teori klinis sehingga setiap pasien diperiksa rinci, tapi kurang banyak melihat variasi pasien. Mungkin pengetahuan dan ketrampilan seorang dokter itu sifatnya kekal. The knowledge and skill of a physician who honors and embrace his/her profession and oath will always remain in his/her heart, timeless and priceless. Dan mereka yang sudah melafalkan Sumpah Dokter, punya hak dan kewajiban imateriil terhadap nurani mereka sendiri.

Ada juga yang bilang, program ini untuk meningkatkan taraf kesehatan masyarakat perifer karena kekurangan tenaga medis, terutama dokter. Ya mungkin benar. Mungkin. Hanya saja aku rasa taraf kesehatan masyarakat tidak tergantung dokter, tapi tergantung pendidikan kesehatan dan ini dimulai dari skala paling kecil yaitu keluarga. Dan keluarga dididik oleh tenaga kesehatan setempat, kader posyandu, puskesmas, ataupun pimpinan daerah setempat. Karena mencegah selalu lebih baik dari mengobati kan?

Ya mungkin mereka benar. Tapi, ternyata bukan itu saja yang bisa aku bawa pulang dari satu tahun di pulau seberang. Ada hal lain….

Tentang bekerja.

Tentang pekerjaan.

Tentang tenaga kerja.

Tentang peraturan ketenagakerjaan.

Dokter umum dikirimkan ke daerah perifer untuk menjalankan serangkaian tugas, bukankah ini termasuk “bekerja”? Maka kami dianggap “tenaga kerja”? Dan kami punya Standar Operasional Prosedur untuk bekerja? Dan sesuaikah hak dan kewajiban kami dengan Undang-Undang Tenaga Kerja Indonesia? Apakah kami dilindungi oleh hukum dan Kementrian Tenaga Kerja?

Selama satu tahun, semua pertanyaan itu tidak ada jawabnya. Lantas, kenapa bertahan satu tahun? Kenapa mau?

Kenapa? Karena aku butuh Surat Izin Praktek. For funk sake, I need that piece of letter. Dan SIP hanya bisa diproses setelah selesai masa internsip. Aku HARUS selesaikan internsip. Aku memang lahir di masa Indonesia sudah merdeka. Tapi mungkin ini rasanya berada di bawah penjajahan. Jadi, bijakkah ini wahai para petinggi? Manusiawikah keputusan program ini?

Pertanyaan-pertanyaan itu memang tidak terjawab, namun harus tetap dipertanyakan. That’s why I wrote this. For you. Semoga ini menjadi sisip pikir yang bisa memicu pikiran-pikiran kritis lainnya.

Tapi sekali lagi, jangan memilih jadi buta. Kompromi terhadap sistem bukan berarti kompromi terhadap standar diri. Di awal tulisan ini ada pertanyaan pribadi “Apa gunanya internsip ini nanti?” Untuk aku pribadi, internsip membuka mata tentang profesi dokter, tentang bekerja, hak dan kewajiban tenaga kerja khususnya dokter, dan perundang-undangannya.

Untuk aku pribadi, internsip melegitimasi standar diri sendiri. Dan ini yang aku bawa menjadi bekal perjalanan selanjutnya, even over job selection, and job interviews.

I refuse to bend my principal as a professional General Practitioner, and it became firmed along my journey, the bumpy ride called Internship.

Ini murni.

Ini tulisan manusiawi, bukan tulisan menggurui.

Ini tulisan opini, bukan tulisan menghakimi.

Silahkan kritisi, komentari, mari diskusi.

Semangat bertanya, Teman Segawat.

Selamat bekerja, Teman Sejawat.

-i-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s