Bekerja Dengan Hati

Seorang pria, anak ketujuh dari delapan bersaudara. Ayahnya seorang tetua agama desa setempat. Ibunya seorang ibu rumah tangga. Keluarga sederhana makan seadanya, ikan teri hampir setiap hari, kadang-kadang daging jerohan kalau lagi berejeki. Mau sekolah mesti ngantri, tunggu giliran. Tabungan keluarga dipecah supaya anak lelaki pertama bisa sekolah tinggi. Adik-adiknya urusan dia nanti. Apalagi anak ketujuh dari delapan bersaudara. Sabar-sabar ngantri sambil nabung sendiri.

Sebelum sekolah bantu Ibu, jualan rokok di terminal. Pagi-pagi ramai pembeli. Pulang sekolah bantu Ibu lagi. Atribut sekolah serba warisan, dari Kakak yang sudah sekolah tinggi. Dalam hati mengucap cita-cita kepingin jadi insinyur. Biar bisa bangun rumah bagus buat Ayah sama Ibu nanti. Mesti tunjukkan sama Kakak kalau layak sekolah tinggi. Mesti rajin bantu Kakak di rumah tinggal dia nanti.

Dan sepuluh tahun kemudian.

Pria ini resmi jadi arsitek lulusan universitas negeri. Sembah sujud sama Kakak yang sudah kerja keras sekolahkan adiknya. Banting tulang mau bikin rumah batu buat Ayah Ibu di kampung sana. Ini cita-cita, harus jadi.

Siap kerja susun strategi. Tidak suka aparatur pemerintahan dan pekerjaan yang ‘bisa diatur’ sana-sini. Tidak mau terlibat di pekerjaan yang riskan melangkahi hak orang lain. Tidak sudi menjahati sesama manusia. Tidak, dia bilang tidak. Tidak ada jaminan kesehatan, jaminan sosial, jaminan keluarga, jaminan pensiun. Yang bisa menjamin cuman Tuhan, katanya. Tidak ada jaminan hidup saat masa-masa resesi dan krisis. Burung saja Dia kasih makan, tidak perlu kuatir, katanya lagi. Kalau hidup itu seperti berlayar, makanya jadi nahkoda mesti tahan banting.

Kalau bisa, pasti dia beri. Kalau tidak punya, dia bilang, iya, nanti aku cari.

Tidak pernah menangis selain saat kematian Ibunya, saat hari raya berdoa mengenang Ibunya dan saat membangun kembali rumah batu dan tempat peristirahatan terakhir Ibunya.

Dan, tidak pernah mengeluh.

Dua puluh lima tahun kemudian.

Rambut rontok di beberapa tempat, mulai putih pelan-pelan beruban. Telapak tangan yang kasar dan jas kesayangan. Tersenyum sambil duduk di bangku spesial khusus orangtua dari para dokter lulusan universitas swasta yang akan melafalkan Sumpah Dokter hari itu.

Putrinya berlari menuju dia, sesenggukan bilang terima kasih. Dengan rejeki yang seperti gelombang, dan biaya sekolah swasta yang luar biasa mencekik, Putrinya memohon, supaya diajarkan kerja keras seperti dia. Supaya kelak bisa seperti dia nanti.

Jawabnya sederhana, aku bekerja dengan hati.

————————————————————————————————————————————–

Berkarya itu bekerja dengan hati. Tidak memikirkan rejeki. Lihat seluruh pelukis, penulis, siapapun itu yang bekerja dengan hati, tidak memikirkan rejeki. Itu namanya berkarya. Dan uang, bukan menjadi nilai tukar sebuah karya. It’s priceless. Karena rejeki itu, rahasia Tuhan. Pasti dan pas untuk setiap orang. Jadi bekerjalah sepenuh hati.

————————————————————————————————————————————–

 

 

– 

(Ditulis saat sedang jaga malam. Jaga seluruh bangsal sebuah RS pemerintah)

 

“Pa, hari ini aku kerja, doain ya..” —- pesan singkat terkirim.

“Selamat berkarya,Nak. God bless you.” —- pesan singkat diterima.

 

Advertisements

One thought on “Bekerja Dengan Hati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s