Percikan Inspirasi

Indah Sandy menulis nama ‘Ugoran Prasad’ seorang penulis novel sastra ‘Di Etalase’ pada kolom “Who I Want to Meet’ Profile Friendsternya dan meminta Mr.Prasad untuk mengajarkan Indah Sandy cara menulis seperti itu and Voila! Her wish came true..

07/18/2007 
Ugoran Prasad wrote: 
seseorang meminta saya membuka alamat friendster ini,
berkaitan dengan permintaanmu itu.
saya agak risih dengan kata “mengajarkan”.
bagaimana jika “rekan belajar”?
ya, jika kamu sungguh-sungguh, saya mau.
tapi jangan balas message ini melalui friendster.
coba: souperugo@gmail.com.
katakan sesuatu.

-ugoran prasad

7/20/07
Indah Sandy wrote:
DAMN.
how did u find me?
miracle.
tahun lalu saya pergi ke pameran buku.
entah kenapa saya tertarik dengan “DI ETALASE”
cover yang cerdas, bahasa yang sangat menarik.
butuh 2 kali membaca buku itu sampai saya mendapatkan
sedikit gambaran tentang Kara Mula.
setelah baca itu, saya lebih menghargai bahasa.
oh yes i worship language.
saya bahkan coba bikin blog “babak pertama evolusi”
saya terinspirasi.
ya, inspirasi.
waiting for your next piece of art.
thanks to you, i enjoy creative writing.

salut dan salam hormat.
-indah sandy

7/21/2007
Ugoran Prasad wrote: 
ya. seseorang memforward alamat friendstermu dan aku membukanya,
laluaku menyuratimu, begitu.
tentu, aku tidak bisa menolak permintaan itu. maksudku, aku tahu
rasanya berbinar-binar melihat suatu dunia yang sepertinya penuh
rahasia, bercahaya, lalu bertanya-tanya: bagaimana cara memasukinya?
bagaimana cara menemukan pintunya? bagaimana rasanya ada di dalamnya?
tinggal di dalamnya?

ya, aku juga pernah mengalaminya. kadang begitu menyiksa: tak ada
satupun orang di sekitarmu yang benar-benar tahu apa yang
menggelisahkanmu. ini bukan salah mereka.
seperti sophie, kita semua punya dunia kecil, bukan? dunia itu
terlindung, tumbuh, bahkan tanpa kau tahu kau menciptakannya.
aku ingat, di suatu kota kecil, orang-orang bersungut-sungut keluar
dari gedung bioskop, di tengah-tengah pemutaran pulp fiction, sambil
bergerundel, “operatornya mabok, film lompat-lompat dibiarin.”
itu tahun 1995. 12 tahun yang lalu, aku masih sma, dan itu benar-benar terjadi.
setelah itu aku nggak bisa mempercakapkan pulp fiction dengan
siapapun, kecuali berupa potongan-potongan khotbah panjang yang
membuat teman-temanku semakin nggak paham.
semoga ini tidak terjadi padamu.
oke, apa yang bisa aku bantu?

salam,
-ugo

7/31/07
Indah Sandy wrote:
pulp fiction. ya dulu saya memang bingung sebenarnya itu tentang apa.
bodyguard. mati overdosis. perampokan kedai kopi.
film hebat. tapi loncat-loncat.
saya tonton itu di dvd. bajakan.
jadi saya tidak punya tempat untuk berkeluh kesah.
siapa yang harus saya marahi?

saya tak bisa menahan girang
saat cerita ke semua teman seorang UGORAN PRASAD mengemail saya.
mereka bilang saya gila. sudah terlalu banyak belajar katanya.
mereka saja yang bodoh. kok baca buku dibilang gila. dasar sempit.
beberapa mulai tertarik dan langsung mencari stok “DI ETALASE” di toko buku
terdekat. kita tunggu saja perkembangannya.
jangan-jangan malah semua yang ngatai saya gila, malah ikutan gila.
hah. ironis.

darimana inspirasi itu datang?
darimana kata-kata itu mengalir?

bagian favorit saya pada “DI ETALASE” saat Kara menikmati memandang
perempuan itu sedang melakukan tugasnya memotong rambut.
bagian kunci-kunci dan pintu yang menggiring Kara pada puisi dan lagu.
sangat manis.
orang lain sampai bertanya maksudnya apa.
saya hanya tersenyum.
terlihat sekali mereka tidak banyak membaca.
dangkal.

tidak ada hal spesifik yang saya minta, cuma berbagi inspirasi saja.
where are they come from?
daily life?

-indahsandy

8/6/2007
Ugoran Prasad wrote: 

Pertama-tama;
sebaiknya kita hati-hati dengan keluasan dunia yang kita kira kita lihat. Jika ada yang tak bisa melihatnya, tak perlu kita mengira mereka sedang berada dalam kedangkalan. Kadang-kadang soalnya sangat sederhana: mereka melihat dunia yang lain, kedalaman yang lain. Dalam hal ini, tak mungkin menggerakkan semua orang menatap dunia yang sama.

Kedua: soal inspirasi.
Jikapun inspirasi itu ada, ia ada karena kita terus mencarinya. Mendekatkan diriku padanya. Jadi, suatu karya, terdiri dari serangkaian inspirasi dan aspirasi, dan, terutama, bagaimana kita mengolahnya. Ia bisa jadi suatu api kecil, suatu kejadian remeh temeh biasanya. Namun jika seseorang memang bersikeras, mengolah dirinya dalam bidangnya, maka hal sederhana itu bisa berubah jadi tenaga besar.

‘Di Etalase” juga demikian. Serangkaian peristiwa kecil yang datang dari mana-mana dan membentuk dunia. Mungkin ada yang dari biografi, mungkin tidak. Itulah yang kini jadi rahasia. Bahkan untukku sendiri:) Satu hal yang penting, inspirasi jangan dijadikan mitos. Kita selalu bisa memulainya dari apa saja. Mari kita coba.

-ugo

*sebuah percikan inspirasi (yang memang bukan mitos)

 

– i –

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s